Psikiatri Biologi Dasar II merupakan buku lanjutan yang membahas
dasar-dasar biologis sistem saraf sebagai landasan ilmiah dalam memahami
gangguan jiwa dan penggunaan psikofarmaka secara rasional. Buku ini menjelaskan
bahwa seluruh fungsi otak bergantung pada proses neurotransmisi, yaitu
komunikasi antarneuron yang melibatkan mekanisme anatomi, listrik, biokimia,
dan regulasi genetik. Pembahasan dimulai dari struktur neuron dan sinaps,
proses penghantaran impuls listrik, pelepasan neurotransmiter, hingga
terjadinya transduksi sinyal intraseluler yang berakhir pada perubahan ekspresi
gen. Dengan demikian, pembaca memperoleh pemahaman bahwa setiap tahapan
komunikasi saraf merupakan target potensial kerja obat-obatan psikiatri. Selanjutnya, buku menguraikan mekanisme neurotransmisi secara elektrokimia
sebagai dasar berbagai fungsi otak, mulai dari memori, emosi, perilaku, hingga
pengendalian gerakan. Dijelaskan bagaimana impuls listrik yang merambat melalui
akson akan memicu pelepasan neurotransmiter ke celah sinaps, kemudian berikatan
dengan reseptor spesifik pada neuron berikutnya untuk menghasilkan respons
eksitatori maupun inhibitorik. Keseimbangan antara kedua respons tersebut
sangat penting untuk mempertahankan fungsi otak yang normal, sedangkan gangguan
keseimbangan dapat menimbulkan berbagai manifestasi klinis, seperti kejang,
gangguan kesadaran, gangguan emosi, maupun gangguan perilaku. Buku juga
menekankan adanya komunikasi dua arah melalui neurotransmisi retrograd yang
menunjukkan bahwa proses komunikasi antarneuron jauh lebih kompleks dibanding
sekadar penghantaran sinyal satu arah. Pembahasan berikutnya berfokus pada berbagai neurotransmiter utama yang
berperan dalam fungsi normal otak maupun patogenesis gangguan psikiatri. Buku
menjelaskan secara rinci karakteristik, jalur, fungsi fisiologis, serta
implikasi klinis neurotransmiter seperti dopamin, norepinefrin, serotonin,
melatonin, glutamat, GABA, asetilkolin, histamin, neuropeptida, serta
neurotransmiter non-konvensional seperti nitric oxide, endocannabinoid, carbon
monoxide, dan orexin. Masing-masing neurotransmiter dihubungkan dengan fungsi
spesifik, seperti regulasi mood, motivasi, pembelajaran, memori, tidur,
perhatian, nyeri, perilaku adiktif, hingga gangguan seperti depresi,
skizofrenia, gangguan cemas, epilepsi, penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer,
dan adiksi. Selain menjelaskan fisiologi, buku juga menguraikan bagaimana
perubahan aktivitas neurotransmiter menjadi dasar pengembangan berbagai terapi
psikofarmakologi modern. Setelah memahami neurotransmiter, buku mengulas reseptor sebagai target
utama kerja obat-obatan psikiatri. Dijelaskan bahwa reseptor merupakan protein
membran yang secara selektif mengenali neurotransmiter dan meneruskan sinyal ke
dalam sel melalui mekanisme yang berbeda. Buku membedakan reseptor yang bekerja
cepat melalui saluran ion (ionotropic receptors) dengan reseptor yang bekerja
lebih lambat melalui protein G (G-protein coupled receptors), kemudian
menjelaskan berbagai subtipe reseptor glutamat, GABA, dopamin, serotonin, dan
norepinefrin beserta implikasinya terhadap efek terapi maupun efek samping
psikofarmaka. Dengan memahami karakteristik masing-masing reseptor, pembaca
dapat mengerti alasan ilmiah di balik pemilihan obat, mekanisme kerja, hingga
munculnya respons klinis yang berbeda pada setiap pasien. Secara keseluruhan, buku ini berhasil mengintegrasikan ilmu dasar neurosains
dengan praktik klinis psikiatri sehingga menjadi referensi yang komprehensif
bagi mahasiswa kedokteran, residen psikiatri, dokter spesialis, maupun tenaga
kesehatan lainnya. Penulis tidak hanya menjelaskan konsep biologis secara
sistematis, tetapi juga mengaitkannya dengan mekanisme penyakit, dasar ilmiah
penggunaan psikofarmaka, serta pentingnya pendekatan terapi yang individual
berdasarkan prinsip farmakokinetik dan farmakodinamik. Melalui pendekatan
tersebut, buku ini menjadi jembatan antara pemahaman biologi molekuler sistem
saraf dengan pengambilan keputusan klinis dalam penatalaksanaan gangguan jiwa, sehingga
diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan jiwa berbasis bukti
ilmiah.