Penulis:
Prof. Dr. Tuti Wahmurti, dr., Sp.KI (K)
Editor :
Veranita Pandia, Santi Andayani, Angke Rafalrizki
Desain Cover dan Tata Letak :
Tim Alfa Pess Pustaka
ISBN : Dalam Pengajuan
Psikiatri Biologi Dasar II merupakan buku lanjutan yang membahas dasar-dasar biologis sistem saraf sebagai landasan ilmiah dalam memahami gangguan jiwa dan penggunaan psikofarmaka secara rasional. Buku ini menjelaskan bahwa seluruh fungsi otak bergantung pada proses neurotransmisi, yaitu komunikasi antarneuron yang melibatkan mekanisme anatomi, listrik, biokimia, dan regulasi genetik. Pembahasan dimulai dari struktur neuron dan sinaps, proses penghantaran impuls listrik, pelepasan neurotransmiter, hingga terjadinya transduksi sinyal intraseluler yang berakhir pada perubahan ekspresi gen. Dengan demikian, pembaca memperoleh pemahaman bahwa setiap tahapan komunikasi saraf merupakan target potensial kerja obat-obatan psikiatri. Selanjutnya, buku menguraikan mekanisme neurotransmisi secara elektrokimia sebagai dasar berbagai fungsi otak, mulai dari memori, emosi, perilaku, hingga pengendalian gerakan. Dijelaskan bagaimana impuls listrik yang merambat melalui akson akan memicu pelepasan neurotransmiter ke celah sinaps, kemudian berikatan dengan reseptor spesifik pada neuron berikutnya untuk menghasilkan respons eksitatori maupun inhibitorik. Keseimbangan antara kedua respons tersebut sangat penting untuk mempertahankan fungsi otak yang normal, sedangkan gangguan keseimbangan dapat menimbulkan berbagai manifestasi klinis, seperti kejang, gangguan kesadaran, gangguan emosi, maupun gangguan perilaku. Buku juga menekankan adanya komunikasi dua arah melalui neurotransmisi retrograd yang menunjukkan bahwa proses komunikasi antarneuron jauh lebih kompleks dibanding sekadar penghantaran sinyal satu arah. Pembahasan berikutnya berfokus pada berbagai neurotransmiter utama yang berperan dalam fungsi normal otak maupun patogenesis gangguan psikiatri. Buku menjelaskan secara rinci karakteristik, jalur, fungsi fisiologis, serta implikasi klinis neurotransmiter seperti dopamin, norepinefrin, serotonin, melatonin, glutamat, GABA, asetilkolin, histamin, neuropeptida, serta neurotransmiter non-konvensional seperti nitric oxide, endocannabinoid, carbon monoxide, dan orexin. Masing-masing neurotransmiter dihubungkan dengan fungsi spesifik, seperti regulasi mood, motivasi, pembelajaran, memori, tidur, perhatian, nyeri, perilaku adiktif, hingga gangguan seperti depresi, skizofrenia, gangguan cemas, epilepsi, penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer, dan adiksi. Selain menjelaskan fisiologi, buku juga menguraikan bagaimana perubahan aktivitas neurotransmiter menjadi dasar pengembangan berbagai terapi psikofarmakologi modern. Setelah memahami neurotransmiter, buku mengulas reseptor sebagai target utama kerja obat-obatan psikiatri. Dijelaskan bahwa reseptor merupakan protein membran yang secara selektif mengenali neurotransmiter dan meneruskan sinyal ke dalam sel melalui mekanisme yang berbeda. Buku membedakan reseptor yang bekerja cepat melalui saluran ion (ionotropic receptors) dengan reseptor yang bekerja lebih lambat melalui protein G (G-protein coupled receptors), kemudian menjelaskan berbagai subtipe reseptor glutamat, GABA, dopamin, serotonin, dan norepinefrin beserta implikasinya terhadap efek terapi maupun efek samping psikofarmaka. Dengan memahami karakteristik masing-masing reseptor, pembaca dapat mengerti alasan ilmiah di balik pemilihan obat, mekanisme kerja, hingga munculnya respons klinis yang berbeda pada setiap pasien. Secara keseluruhan, buku ini berhasil mengintegrasikan ilmu dasar neurosains dengan praktik klinis psikiatri sehingga menjadi referensi yang komprehensif bagi mahasiswa kedokteran, residen psikiatri, dokter spesialis, maupun tenaga kesehatan lainnya. Penulis tidak hanya menjelaskan konsep biologis secara sistematis, tetapi juga mengaitkannya dengan mekanisme penyakit, dasar ilmiah penggunaan psikofarmaka, serta pentingnya pendekatan terapi yang individual berdasarkan prinsip farmakokinetik dan farmakodinamik. Melalui pendekatan tersebut, buku ini menjadi jembatan antara pemahaman biologi molekuler sistem saraf dengan pengambilan keputusan klinis dalam penatalaksanaan gangguan jiwa, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan jiwa berbasis bukti ilmiah.





Goomsite.Net